Bagi sebuah keluarga, keberadaan sebuah rumah adalah sangat penting sekali, rumah adalah tempat menetap sebuah keluarga, tempat menumpahkan kasih sayang dan segala kenangan indah tempat memulai aktifitas dan sistem dalam sebuah keluarga, dan sebagainya, maka tak heran bila rumah menjadi impian semua keluarga, tak mengenal level dan kelas mulai keluarga buruh kasar, kuli, karyawan, wirausahawan, milyarder semuanya mengimpikan rumah idamannya sesuai kemampuan dan fantasi khayalannya, mulai dari impian rumah sederhana, rumah cluster, rumah mewah, apartement, vila, istana dan sebagainya.
namun terkadang ada proses berliku dan fase tertentu untuk mewujudkan sebuah impian itu sesuai dengan track record dan keshalehan nasib, garis nasib, takdir dan kesetiaan eksis dalam prosesnya.
Dengan fungsi dan gengsinya sebuah rumah terkadang dijadikan umpan yang menggiurkan bagi bunga-bunga yang lagi bermekaran dengan gaya hidup dan ambisi hedonis melalui sebuah ungkapan classic " andai kata dinda mau jadi istri kakanda yang sudah beristri dua, rumah type cluster udah pasti ditangan,".
Begitupun sang ayah yang income bulanannya selalu tarik menarik dengan pengeluaran resiko harian dan cicilan bulanan yang tak lunas- lunas selalu menghibur dua anak lucunya, dan istri tersayangnya dengan janji akan rumah impiannya yang luas dan serba lengkap dan segera meninggalkan rumah kontrakannya yang berisik, pengap, panas dan sejuta kenangan getir dan pahitnya, meski hanya dengan kata -kata janji lega rasanya ia telah menumpahkan semua impian dan angan-angannya, bergetar dan meledak semangatnya bila ia ingat janji rumah besarnya itu, hanya sang waktu yang mampu menjawab impiannya itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar